Skip to main content

Mencicil Idealisme, Menawar Kenyataan

Manusia adalah sebuah nyata, yang eksistensinya ada lebih dulu sebelum esensinya. Tidak seperti sebuah jembatan, yang mana esensi, konsep, dan rancangan fungsinya sudah ada, bahkan sebelum jembatan itu sendiri terwujud.

Sebenarnya hari ini saya tidak ingin menulis, seharusnya saya melanjutkan untuk menggiati backpropagation & gradient descent, tapi Sartre tak henti-henti nya menghantui pikiran saya.

Untuk mukadimah, saya rasa anda tahu tentang kisah saat Tuhan memerintahkan Nabi Ibrahim untuk mengorbankan putranya Ismail dengan menyembelihnya—Derita Ibrahim, kalau kata Kiergaard—Dari cerita tersebut Sartre menyimpulkan, bahwa derita bisa tampak, bahkan ketika disembunyikan.

Sebuah kekuatan untuk mengelakan pertanyaan yang resah: bisakah anakku menerima dirinya sebagai tubuh yang dipotong dan dipersembahkan? Aku mencintainya. Tapi betapa muskilnya menentukan seberapa jatuh cinta itu lebih kecil ketimbang cintaku kepada Tuhan.

Pada saat ini aku harus memilih yang satu, yang kucintai untuk diberi persembahan, dan yang lain, yang juga kucintai untuk dipersembahkan. Mana yang harus dikorbankan?

Kata Goenawan Mohamad dalam Tuhan dan hal-hal yang tak selesai.

Lalu, para eksistensialis berkata:

Tidak ada cinta selain tindakan-tindakan cinta; tidak ada potensi atas cinta selain potensi yang diwujudkan dalam mencintai.

Yang menarik bagi saya adalah bagaimana individual menginterpretasikan sebuah pertanda nyata lalu menyimpulkan sebuah hipotesis yang ditindaklanjuti menjadi sebuah tindakan.

Seperti tanggapan Sartre dalam cerita Ibrahim tersebut, cerita tersebut akan baik-baik saja, di terima, dan bahkan dijadikan cerita panutan di sebuah buku kitab jika malaikat yang menyampaikan wahyu tersebut merupakan malaikat sungguhan, dan benar bahwa Ibrahim yang di maksud oleh Tuhan adalah Ibrahim tersebut.

Akan sangat berbeda, dan lucu sekali akhir ceritanya, jika apa yang terjadi itu sebaliknya, kan?

Sebagai contoh lain, misalnya ada seorang pemuda yang sangat mencintai seorang wanita, dan ingin mendapatkan cinta wanita tersebut.

Lalu pada suatu hari, pemuda tersebut bermaksud untuk menyatakan cintanya, dan berusaha membuktikan kepada wanita yang dimaksud, bahwa cintanya adalah cinta yang sejati, yang sangat besar sekali, dan cinta yang abadi.

Lalu saat pemuda tersebut di perjalanan untuk menemui wanita tersebut, tiba-tiba hujan badai yang sangat besar sekali, sampai-sampai ia harus berhenti sejenak menunggu badai tersebut reda.

Di momen tersebut, pemuda itu berfikir, apakah ini pertanda dari Tuhan, bahwa ia tidak merestui cinta yang akan aku sampaikan kepada wanita itu?

Pertanda di cerita tersebut bukankah sangat nyata? hujan badai yang sangat besar sekali di perjalanan pemuda tersebut untuk menemui wanita yang dicintainya?

Menurut Sartre, di titik ini lah kita sampai kepada ranah “putus asa”, definisi putus asa disini mungkin berbeda dari apa yang selama ini anda pahami tentang arti putus asa.

Putus asa disini maknanya sangat sederhana sekali. Maknanya adalah apakah kita harus membatasi diri untuk hanya memperhitungkan hal-hal yang bergantung pada kehendak kita, atau pada seperangkat probabilitas yang memungkinkan diambilnya tindakan. Kapanpun kita menghasratkan sesuatu, selalu ada anasir probabilitas.

Manusia beroperasi dalam dunia yang penuh kemungkinan.

Keterbelengguan

Saya pernah berdiskusi mendalam di sebuah forum online Reddit, awal mulanya seseorang menceritakan tentang pertikaian nya dengan istrinya tentang sebuah permasalahan yang sedang mereka hadapi, rumit sekali, sampai ke titik sang suami berkata kepada istrinya bahwa ia sudah tidak mampu lagi menghadapi permasalahan tersebut, dan ingin mengakhiri hidupnya.

Lalu istrinya berkata, “kalau kamu mengakhiri hidupmu, bagaimana nasibku ini, istrimu, bagaimana anak-anakmu, keluargamu?”

Dan suaminya menjawab, “tidak tahu, sungguh aku tidak tahu lagi”

Dan istrinya menjawab, “kamu itu terlahir sebagai laki-laki, dan kamu adalah laki-laki, bersikaplah selayaknya laki-laki!”

Sang suami berusahan mencari opini dan jawaban di forum itu tentang pertikaian tersebut, apakah tamparan sang istri itu benar, apakah sang istri seharusnya tidak berkata seperti itu, bukankah sang istri seharusnya memberikan support penuh atas permasalahan yang sedang dihadapi?

Ada banyak sekali opini yang di lontarkan pada diskusi tersebut, yang menarik perhatian saya adalah opini seseorang yang saya anggap menyinggung soal patriarki, dia bilang “c’mon man, u shouldn’t let ur woman do u like that, u should take control”

Karena opini patriarkal tersebut, saya bergumam “hmm, sang istri menyinggung tentang kelaki-laki an, bagaimana ekspektasi sosial tentang laki-laki ya kira-kira?”

Saya coba renungi, ternyata bahkan tanpa mengetahui permasalahan-nya pun, social construct disini sangat rumit, social construct yang selama ini orang-orang secara buta meng-internalisasi tanpa pernah mempertanyakan secara detail terasa sangat kuat sekali.

Lalu saya berfikir, jika eksistensi manusia itu ada terlebih dahulu sebelum esensinya, maka apa tindakan yang tepat yang bisa di lakukan disini? esensi apa yang akan di bentuk?

Lalu, apa yang bisa saya pelajari dari pengaruh ideologi sosial, jenis kelamin, kewibawaan dan posisi seseorang disini untuk memutuskan sebuah tindakan?

Mungkin Sartre akan bilang, “sang suami bebas memilih bagaimana dia mendefinisikan dirinya, tapi dunia telah lebih dulu memberikan kerangka”

Tapi Karl Jaspers mungkin akan bilang, “ini adalah momen limit situation mu, tindakan apa yang akan kamu ambil untuk membentuk esensimu?”

Saya jadi penasaran, kalau misalnya Firdaus masih hidup, kira-kira dia akan beropini seperti apa.[1]

Tundukkanlah dirimu sendiri dan bukan dunia. — René Descartes

Mari kita mencoba berhipotesa, membuat kerangka berfikir untuk menyikapi permasalahan tersebut.

Otto Irving berkata, “When we lose our principles, we invite chaos.”, yang artinya: saat kita kehilangan prinsip, kita mengundang kekacauan.

Nah ini seru, misalnya anda sudah memegang teguh prinsip anda, terlepas dari mana datang nya prinsip tersebut, sebagai contoh:

Saya seorang suami teladan, ber-prinsip akan bertanggung jawab terhadap keluarga saya, memberikan sandang pangan dan papan.

Nah apa yang mendasari prinsip di atas? apakah tuntutan norma sosial? apakah itu datang dari hati anda sendiri?

Lalu karena permasalahan yang sangat rumit sekali, anda tidak mampu untuk memenuhi prinsip anda sendiri. Nah keputusan yang selanjutnya anda buat adalah apa yang menentukan apakah prinsip yang selama ini anda pegang adalah murni anda imani.

Berbeda dengan orang yang sedari awalnya memang memutuskan untuk tidak berpegang teguh pada sebuah prinsip, mereka berjalan di garis perjalanan alam semesta ini dengan menggunakan kepasrahan, tapi, kepasrahan, menurut saya adalah sebuah spektrum, tergantung bagaimana anda menyikapinya.

Dalam ranah teknikalitas, bahkan saat seseorang memutuskan untuk tidak berpegang pada sebuah prinsip, mereka juga sudah berprinsip untuk tidak berprinsip. Saat seseorang memutuskan untuk tidak membuat keputusan, mereka juga sudah berkeputusan untuk tidak memutuskan.

Dengan pondasi berfikir yang seperti ini, mari kita telaah lebih dalam lagi, bagaimana sih sikap seseorang di definisikan, paling tidak kita bisa sedikit memahami, atas pengaruh apa, atas dasar apa, dan dengan tujuan apa sikap tersebut di ambil.

Saya ingin bertanya kepada anda, saat anda memutuskan untuk membaca tulisan ini sampai ke titik ini, itu karena apa? Apakah karena keinginan anda sendiri, atau karena ada alasan lain?

Setelah anda mempunyai jawaban, coba pelajari lebih dalam keputusan anda tersebut, apakah ada sebuah paksaan dari luar diri anda sendiri?

Sejauh ini saya mendapat kesimpulan yang seperti ini, anda juga bebas membuat kesimpulan:

Manusia terlahir hanya membawa eksistensinya saja, tidak di bebani oleh esensi, tidak di bebani oleh tanggung jawab, lalu saat manusia tersebut tumbuh semakin besar, faktor eksternal mulai memberi makna, tanggung jawab, kewajiban dan lainya.

Hal paling absolut yang manusia tersebut miliki adalah kebebasan. Kebebasan yang paling bebas, kebebasan akan seperti apa dia merespon faktor-faktor eksternal tersebut, dengan kebebasan tersebut manusia bisa membentuk esensi nya.

Nah, disinilah sebuah prinsip terlahir, sebuah tembok pembatas, yang memberi anda keamanan akan apa yang ada di luar sana dan diri anda sendiri.

Lalu, esensi apa yang ingin anda buat?

Apakah anda akan maju ke garis yang paling depan dan memutuskan untuk menghadapi nya, atau anda akan berlindung dari faktor-faktor eksternal tersebut?

Itu hak kebebasan absolut anda, keputusan anda adalah esensi yang anda bentuk sebagai manusia, tapi, coba di telaah kembali, apakah keputusan tersebut adalah hasil dari kebebasan anda untuk membuat keputusan, atau hasil dari kemenyerahan anda kepada faktor-faktor eksternal tersebut?

Yang disayangkan adalah ketika anda membuat keputusan atas dasar mauvaise foi, bad faith, ketika anda mulai menyalahkan sebuah keadaan, menindaklanjuti hasil pikiran yang terpengaruh bukan dari kebebasan anda, tapi dari kemenyerahan, ke-putusasaan.

Karena Manusia akan selalu beroperasi dalam dunia yang penuh kemungkinan.

Di depan jukung berwarna jingga yang menyusur pantai, di hadapan ombak yang biru tak jelas, di antara rumput langka dan karang kering, manusia—ya, sang perupa—merasa, bahwa benda-benda yang tak hendak berlagak itu ternyata bersikeras mengelak dari kehendaknya.

Tuhan & hal-hal yang tak selesai oleh Goenawan Mohamad.


References

[1] Nawal el Saadawi - Perempuan di titik nol (1975). 978-1-84277-872-2